sapa dan salam

Assalamuallaikum, Selamat bergabung di Xpassion.:D

info terupdate

Hi Xpassioners, selamat berkarya di BUKU ke 2 Xpassion, kumpulkan tulisanmu segera, rebranding your self and improve your skill
  • -Lutfi Zein-.
  • Find Your Passion
  • Now
  • No Delay,No Excuse,No But.
  • Reading Books Makes you Better.

Selasa, 31 Desember 2013

Frontman : Sebuah Simbolisasi Bawah Sadar*

Penulis: inu basidjanardana


Bob Marley, nama ini tidaklah asing di telinga, apalagi untuk para penggemar musik reggae. Dia bukan hanya terkenal sebagai seorang ‘cool’ berambut gimbal yang hobi menghisap ganja tapi juga sebagai ‘corong’ politik untuk meruntuhkan kesewenang-wenangan pemerintahan kulit putih terhadap kulit hitam di homelandnya, Jamaika, pada saat itu.

‘Suara-suara’ kemanusiaan itu dia wujudkan dalam bentuk lagu dan dinyanyikan bersama bandnya, The Teenagers ( belakangan dirubah namanya menjadi The Wailing Rudeboys, kemudian dirubah lagi menjadi The Wailing Wailers, dan terakhir The Wailers. Band ini hasil bentukannya dengan Peter Mcintosh, Neville Bunny Livingstone, Junior Braithwaite, Beverly Kelso, dan Cherry Smith. Setelah beberapa kali  mengalami pergantian personel, secara bertahap akhirnya mereka berhasil mendapat respon dari usica  Inggris dan Amerika dengan albumnya yang berjudul Catch A Fire, meskipun lagu-lagu dari album itu tidak ada yang berhasil menduduki peringkat di tangga lagu Inggris.

Tur untuk mempromosikan album Catch A Fire pun digelar. Personalitas Bob Marley yang lebih menonjol dari yang lain memberi nilai jual tersendiri. The Wailers menjadi begitu identik dengan nama Bob Marley selama tur panjang tersebut berlangsung. Dari sinilah nama Bob Marley secara khusus dikenal sebagai ‘motor’  The  Wailers. Navile Garrick, seorang graphics designer, kemudian menampilkan close up wajah kharismatik itu di sampul album The Wailers berikutnya, Natty Dread, yang dirilis pada bulan Januari 1973. Di album inilah untuk pertama kalinya nama Bob Marley & The Wailers dipakai secara terang-terangan di hadapan usica dan secara tidak langsung Bob Marley pun ‘resmi’ menjadi ‘maskot’ dari grup musik yang didirikannya pada tahun 1962 itu.

Begitulah, fenomena ‘penyimbolan’ ini terjadi dengan begitu cepat tanpa disadari kapan datangnya. Pada kenyataanya hal itu tidak hanya terjadi pada The Wailers saja. Ada The Beatles dengan John Lennonnya, The Doors dengan Jim Morrisonnya, Nirvana dengan Kurt Cobain-nya, sampai yang paling aneh, band punk legendaris, Sex Pistols, malah menjadikan Sid Vicious (yang notabene tidak bisa memainkan alat musik) sebagai point of interest band mereka.

Terbentuknya Sebuah Simbol:
Kata frontman ditinjau dari makna denotasinya ( first order significant ) yaitu “orang yang ada di depan ( dalam hal ini vokalis dari band )”. Sedangkan konotasinya ( second order significant ) bila dihubungkan dengan suatu konsep atau tema usical yang lebih luas dimaknai sebagai “orang yang berpengaruh di dalam band ( leader )”.

Seorang leader tidak harus dari ‘kalangan’ vokalis saja, drummer pun, walaupun dia tidak terlihat secara langsung oleh mata penonton ( karena tidak berada di depan ), bisa disebut seperti itu asal dia memiliki pengaruh di bandnya. Pengaruh-pengaruh ini muncul dari sisi usical sang personal, kemampuan dia dalam memainkan musik dan atau cara dia berpenampilan.

Jean Baudrillard menjelaskan bagaimana tanda-tanda di dalam wujud  hyper sign  – yang dikonstruksi sebagai komoditi di dalam wacana kapitalisme – menuntut adanya pengemasan, pesona ( fetishism ), kejutan ( surprise ), provokasi, dan daya tarik ( eye catching ) sebagai logika komoditi itu sendiri.

Dari sinilah ‘proses simbolisasi’ terbentuk. Seorang frontman tidak hanya ‘bermain’ untuk mewakili dirinya sendiri tapi juga mewakili beberapa orang yang ada dibelakangnya (para personel band tersebut atau bahkan musik yang dia mainkan).  Akhirnya dengan disadari atau tanpa disadari sang frontman pun berubah menjadi sebuah simbol yang dipakai untuk menarik massa.

Kesepakatan tidak tertulis ini tidak dapat digantikan dengan objek lain tanpa kehilangan motivasi kesatuan antara penanda ( signifier ) dan petanda ( signified ) nya. Bayangkan jika suatu saat ( misalnya ) Nirvana akan mengeluarkan album The Memories of Nirvana, tentu wajah gahar Kurt Cobain lebih pas dipasang secara close up di sampul albumnya karena masyarakat secara tidak sadar telah membuat kesepakatan ( convention ) ‘imajiner’ bahwa Kurt Cobain mewakili Nirvana. Akan berbeda bila produser dari album tersebut memasang wajah sang drummer, Dave Grohl.     

Penguatan – penguatan tentang ‘who is the leader’ dalam band akhirnya perlu juga dilakukan, mengingat dalam band nantinya usical the others yang ditakutkan memiliki usical sebesar atau bahkan melebihi ‘ketuanya’. Maia Esthianty kemudian mencantumkan namanya pada grup duo baru bentukannya, Maia & Friends. Ini dimaksudkan untuk lebih menegaskan kedudukannya di dalam grup tersebut. Masyarakat pun dipaksa mengakui bahwa Maia lah ‘otak’ disitu. Hal yang sama juga dilakukan oleh Andra dan Andra & The Backbones-nya.
Lain lagi dengan Dhani Ahmad, leader dari Dewa 19. Sejak album Laskar Cinta yang menempatkan Once sebagai vokalisnya, dia kemudian menerapkan usica 2 lead vocal, yang tentu saja dia menjadi salah satu vokalisnya. Dengan cara itu secara usical dia seolah berkata, “ Hey, lihat aku!! Aku masih bos-nya !!”

Semua ( lagi-lagi ) Soal Citra:
Perihal citra masih saja mengusik, bukan saja karena citra ‘bermain’ sebagai imagology dewasa ini, tetapi setidaknya citra punya ‘otonomi’ sendiri. Lihat saja bagaimana Sex Pistols memilih Sid Vicious menjadi ‘simbol’ band tersebut. Semua karena citra yang ada pada Sid mewakili musik yang dimainkannya (terlepas dari filosofi punk itu sendiri); bandel, asal-asalan, dan urakan. Sid memiliki itu semua.
Citra kemudian menjadi sesuatu yang harus dirancang, dibangun dan ‘diselenggarakan’ dengan sebaik-baiknya. Hasilnya, realitas yang baru dibangun lewat citraan-citraan di dalamnya. Hal inilah yang nantinya membangun kontak batin dengan para ‘konsumen’ maupun ‘calon konsumen’. Kontak batin macam ini kemudian dianggap penting karena musik itu sendiri seringkali tidak dapat dengan lugas tampil dan diapresiasi semata karena kualitas musikalnya tanpa pengenalan dan rasa yang dimiliki oleh usica. Semua dikonstruksi melalui pencitraan visual, yang meliputi fashion, attitude, dan seksualitas (wajah cantik/tampan, atau, wajah buruk yang “cool” dan berkarakter).

Bagaimana dengan ranah audio, dimana musisi tampil lebih membumi dengan pecitraan profil yang lebih “kontekstual” yaitu hasil karya musisi itu sendiri, musik. Tentu saja, karena radio tak dapat memuat pencitraan visual selain audial. Tapi nyatanya, pencitraan kualitas usical dapat pula terjadi. Naik atau turunnya popularitas sebuah lagu dalam tangga lagu (chart) sebuah radio, seberapa sering lagu itu diputar dengan tambahan profiling yang diberikan penyiar sebelum ataupun sesudah lagu tersebut diputar juga merupakan wilayah yang penuh dengan rekayasa pencitraan. Walau radio berusaha bersikap adil dengan semua perusahaan rekaman plus dagangannya, tetap saja, pencitraan tersebut terjadi ketika profil personal (yang lagi-lagi banyak didominasi oleh si ‘ketua band’ ) hadir dalam ruang siar untuk membicarakan album terbaru atau sekedar melakukan “kopi darat” dengan penggemar.

“Di era kini orang lebih memilih citra daripada benda. Lebih menyukai salinan daripada asli. Lebih menggemari penampakan ketimbang keberadaan nyata”, ungkap Feurbeuch, seorang filsuf Jerman, untuk mempertegas pengaruh citra terhadap realitas. Kemasan tanda dan mediumya, pada satu titik, lebih menarik perhatian setiap orang ketimbang pesan atau makna yang disampaikannya, yang menggiring orang pada ekstase tanda dari medium itu sendiri, sembari melupakan pesan dan maknanya – inilah yang dikatakan Marshall McLuhan sebagai medium is the message-. Artinya orang tenggelam di dalam gairah pengemasan tanda itu sendiri, lewat kecanggihan teknologi simulasi dan teknologi citraan ( imagology ), sehingga tanda tidak lagi mengacu pada dunia realitas.

Mungkin ungkapan Umberto Eco tentang tanda bisa dikaitkan dengan kedustaan tanda disini, dimana mereka digunakan sebagai alat berdusta. Maka, setiap makna (meaning) adalah dusta, setiap pengguna adalah pendusta dan setiap penandaan (signification) adalah kedustaan.

Jadi, sudah dan siapkah anda didustai di dunia sederhana ini?
*Tulisan ini pernah dimuat di Majalah Mahasiswa Tegalboto Edisi XIII/2008,Musikografi
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar