sapa dan salam

Assalamuallaikum, Selamat bergabung di Xpassion.:D

info terupdate

Hi Xpassioners, selamat berkarya di BUKU ke 2 Xpassion, kumpulkan tulisanmu segera, rebranding your self and improve your skill
  • -Lutfi Zein-.
  • Find Your Passion
  • Now
  • No Delay,No Excuse,No But.
  • Reading Books Makes you Better.

Selasa, 31 Desember 2013

Melangkah Menuju Puncak Harapan

Penulis: Agung Tri Yulianto


Dipinggir pematang sawah pandanganku menatap jauh memandang luasnya hamparan padi yang berwarna hijau yang begitu menyejukkan mata, namun semua itu tidak bisa menyejukkan hatiku yang sedih gundah gulana karena berbagai masalah yang sedang kualami.

Setidaknya itu yang aku lakukan setiap sore setelah ditinggal ayahku untuk selama-lamanya. Awalnya aku ragu untuk kembali kekota ini karena tidak ada lagi yang menopang biaya kuliahku yang selama ini ditanggung almarhum ayahku, akhirnya dengan uang saku 300 ribu rupiah aku bulatkan tekat untuk berangkat melanjutkan kuliah yang hanya tinggal skripsi saja yang menurutku sangat sayang untuk ditinggalkan apalagi keinginan ayahku agar aku lulus kuliah dan mendapat gelar S1. Sudah 6 bulan aku kerja serabutan, terkadang menjaga rental Playstation terkadang menjaga warnet menggantikan karyawannya yang tidak bisa masuk.

Dengan penghasilan yang sangat minim aku tidak bisa melanjutkan bimbingan skripsi karena hanya cukup untuk makan. Padahal sebagai mahasiswa tingkat akhir aku harus segera menyelesaikan skripsiku akan tetapi begitu banyak kendala yang kuhadapi. Mulai dari Kos-kosan yang sudah habis masanya sehingga aku harus numpang dikontrakan temanku, komputer tidak punya, buku-buku untuk skripsi tidak ada sampai KTM pun hilang sehingga aku tidak bisa mengurus hal-hal yang berkaitan dengan urusan kuliahku. Kelihatannya remeh hanya kehilangan KTM akan tetapi tidak sesederhana itu akibatnya, karena aku tidak memiliki KTM aku tidak bisa meneruskan skripsi disebabkan aku tidak bisa meminjam buku-buku yang aku butuhkan di perpustakaan.
Kenapa tidak diurus saja? Begitu kata teman-temanku, sebenarnya aku ingin mengurusnya ke kantor TU dikampusku akan tetapi ada syarat yang tidak bisa aku penuhi yaitu harus melunasi tunggakanku dikampus yang jumlahnya cukup banyak bagiku yang tidak memiliki apa-apa. Huft.. masalah kecil menjadi besar seperti gunung jika saling terkait dengan masalah yang lain, barangkali itu ungkapan yang cocok. 

Disuatu pagi sepulang dari menjaga Playstation aku merasa begitu iri melihat para mahasiswa yang dengan begitu riangnya berangkat kekampus ada yang naik motor ada juga yang naik mobil seolah-olah bagiku mereka tidak mempunyai beban. Akhirnya aku bertanya dalam hati apakah benar mereka tidak mempunyai beban? Hatiku mejawab belum tentu mereka tidak mempunyai beban, bisa saja mereka mempunyai masalah yang lebih berat dari masalah-masalahku.

Akhirnya aku putuskan untuk tidak istirahat setelah lelah bekerja, aku langsung mandi dan bersiap-siap untuk pergi kekampus meskipun tujuanku belum jelas , paling tidak aku bisa bertemu dengan dosen pembimbingku. Kumantapkan niatku untuk menyelesaikan semua masalahku yang menggunung dengan usaha-usaha kecil seperti mencangkuli gunung sejengkal demi sejengkal karena sebanyak apapun masalahku pasti akan selesai juga jika aku terus berusaha. Sudah aku bayangkan omelan-omelan dari yang akan kudapatkan dari dosen-dosenku karena sudah cukup lama aku tidak pernah melakukan bimbingan, tapi bagiku itu tidak masalah asal aku bisa melanjutkan bimbingan skripsiku. Setelah berada dikampus sambil menunggu antrian bimbingan skripsi aku bertemu dengan teman-teman baru karena teman-teman seangkatanku sudah lulus semua, berarti aku harus mencari teman-teman baru agar aku bisa tukar pendapat dan yang paling penting aku bisa meminjam buku atau paling tidak mereka mau membantuku meminjamkan dari perpustakaan. Hehehehe…
Sudah 2 bulan aku mengerjakan skripsiku lagi dan saat ini sudah memasuki bab ketiga dengan segala perjuanganku, aku sangat bersyukur karena aku masih bisa melanjutkan tugas akhir kuliahku dengan segala keterbatasan yang ada. Hari ini aku sudah membawa bab ketiga skripsiku ke hadapan dosen pembimbing meskipun gajiku mejaga warnet semalam aku pakai untuk membayar biaya print skripsiku sehingga siang ini aku tidak bisa makan siang. Namun rejeki dari Allah itu memang sangat melimpah tanpa diduga ada seorang teman yang mengajakku untuk makan siang. Sepulang dari makan siang ada seorang cewek menyapaku, aku kira dia menyapa temanku ternyata dia memanggilku setelah kudekati dia adalah adik tingkatku yang bernama Ria teman satu dosen pembimbing yang mengajakku pergi ke kantor jurusan.
Setelah bimbingan selesai bimbingan kami berjalan menyusuri jalanan dikampus, tiba-tiba ada seorang cowok berteriak memanggil temanku yang berada disebelahku. Cowok itu menawari Ria untuk ikut proyek dikampus menjadi korlap PLPG yang mana membutuhkan tenaga mahasiswa tahap akhir yang tinggal mengerjakan skripsi saja. Ria bertaya berapa fee kalau ikut proyek itu, si cowok menjawab kalau feenya cukup besar bisa buat beli laptop hanya ada syaratnya harus punya motor agar bisa memudahkan dalam pekerjaan.
Wah aku langsung tertarik karena uang segitu bagiku banyak, cukup untuk membayar tunggakan kuliah dan ujian skripsi nanti akan tetapi aku tidak memiliki motor.
Malam harinya aku sms si Ria, bagaimana dengan proyek itu apakah dia jadi ikut atau tidak, ternyata Ria tidak bisa ikut karena dia harus mengikuti kuliah selain dikampusku yaitu di sekolah Pramugari dan dia menyuruhku untuk ikut proyek itu, akan tetapi aku jawab aku tidak punya motor sehingga aku tidak memenuhi sarat untuk ikut proyek itu yang mensyaratkan harus memiliki motor.
Esok paginya aku aku bertemu lagi dengan Ria dikampus dan dia menawarkan motornya untuk aku pakai selama proyek PLPG karena dia punya 2 motor tapi dengan syarat aku harus mau bantu dia menghantarkan bunga dan coklat ke mantan cowoknya sebagai permintaan maafnya, langsung saja aku sanggupi persyaratan itu tanpa pikir panjang meskipun aku harus mengemban misi sebagai kurir bunga dan coklat dan membuat mereka balikan lagi. Hehehe..
Selama satu setengah bulan aku mengikuti proyek dikampusku dengan fasilitas sangat istimewa, tidur dihotel dengan makanan yang sangat istimewa 3 kali sehari dan masih mendapat gaji lagi. Sungguh jauh dari bayanganku bahwa aku akan mendapat kenikmatan dan kemudahan ini dari Allah SWT, yang awalnya kosan aku tidak punya dan makan pun susah sekarang begitu berbeda.  Aku jadi teringat pribahasa “dimana ada kemauan pasti ada jalan” dan orang yang menuntut ilmu itu berada dijalan Allah maka Allah akan memudahkan jalannya.
Akhirnya skripsiku selesai bersamaan dengan proyek itu selesai dan aku bisa membayar tunggakanku dikampus, membuat KTM dan mendaftar ujian skripsi. Dengan semangat dan rasa syukur aku belajar untuk menghadapi ujian dan Alhamdulillah aku mendapat nilai yang memuaskan.

Akhirnya tibalah waktu wisuda, hati ini berdebar ketika namaku dipanggil untuk maju dihadapan rektor untuk diwisuda. Aku berjalan sambil melihat ke tribun undangan mencoba mencari dimana ibuku berada, pasti dia bahagia dan terharu melihatku. Bahagia karena akhirnya aku lulus dan terharu karena ayahku tidak bisa menyaksikan anaknya ini menjadi sarjana. Setelah selesai diwisuda oleh Rektor sambil berjalan menuju tempat dudukku aku melihat keatas dan berkata dihati “Ayah terimakasih atas semua perjuanganmu selama ini, aku sudah jadi sarjana semoga Allah memberikan tempat terbaik bagimu disana” tanpa terasa air mataku jatuh bahagia bercampur sedih dihatiku.

Segala puji syukur ke hadirat Allah SWT yang telah memudahkan jalan bagiku, perjuangan ini akan aku ingat seumur hidupku agar aku tidak mudah menyerah dan tidak mudah takut karena sesulit apapun kendala yang kuhadapi asal bersungguh-sungguh dalam berjuang maka Allah akan memberikan jalan.


“MAN JADDA WAJADA”
Barang siapa bersungguh-sungguh dia akan mendapatkan
“MAN SHOBARO DHOFIRO”
Barang siapa yang sabar akan beruntung
“MAN SAARO ALADDZARBI WASHOLA”
Barang siapa berjalan dijalannya maka dia akan sampai
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar