sapa dan salam

Assalamuallaikum, Selamat bergabung di Xpassion.:D

info terupdate

Hi Xpassioners, selamat berkarya di BUKU ke 2 Xpassion, kumpulkan tulisanmu segera, rebranding your self and improve your skill
  • -Lutfi Zein-.
  • Find Your Passion
  • Now
  • No Delay,No Excuse,No But.
  • Reading Books Makes you Better.

Kamis, 31 Oktober 2013

Ilmu dan Rasional

Penulis: Firman Syahyudin
 
Sudah dimaklumi bagi orang yang berakal sehat bahwa ilmu memiliki keutamaan dan keagungan. Keutamaannya melebihi ahli ibadah, apalagi dunia. Keutamaan bermakna kelebihan. Artinya, ilmu memiliki kelebihan dibanding kekayaan bentuk lain. Kelebihan mengindikasikan adanya kesempurnaan, dan kesempurnaan itulah yang menjadi tujuan kelebihan alias keutamaan. Dengan demikian, kesempurnaan adalah target yang harus dicapai setelah memperoleh kelebihan.
Ilmu dan keutamaan adalah kesempurnaan. Sifatnya bukan relatif atau nisbi, tetapi pasti. Kesempurnaan relatif adalah kesempurnaan yang masih bergantung kepada unsur lain. Ia tidak bisa berdiri sendiri. Contohnya adalah gagahnya tentara yang sedang menunggang kuda. Gagahnya karena ia menunggang kuda. Sedangkan kuda sendiri keutamaannya tampak jika dibandingkan dengan keledai. Di sini keutamaan tentara masih bergantung pada kuda, sedangkan keutamaan kuda bisa dilihat jika sejajarkan dengan keledai. Contoh lain, warna hitam. Warna ini tampak memiliki kesempurnaan bila melekat pada rambut, tetapi menjadi jelek alias tidak lagi memiliki kesempurnaan jika menempel pada muka seseorang. Inilah yang disebut kesempurnaan relatif.
Sedangkan ilmu tidaklah demikian. Kesempurnaannya bersifat mutlak. Mengapa demikian? Karena ilmu adalah sifat Allah dan malaikat. Dengan ilmu, malaikat dan hamba-hamba Allah dapat mendekatkan diri kepada Allah SWT secara sempurna. Mendekatkan diri kepada Allah tidak terkait dengan tempat atau sarana-sarana fisik yang lain, tetapi dengan sifat kesempurnaan ilmu itu sendiri. Itulah sebabnya semakin banyak dan sempurna ilmu seseorang, maka semakin dekatlah ia kepada Allah, sehingga semakin mensejajari derajat malaikat.
Dari beberapa contoh di atas bisa ditarik pengertian bahwa gagahnya prajurit penunggang kuda disebabkan kudanya, dan itu berarti kudalah yang mempunyai hak kegagahan, sedangkan penunggangnya tidak. Prajurit tampak gagah karena ditopang kegagahan kuda. Hal ini berbeda dengan kesempurnaan ilmu atau kesempurnaan sebab ilmu. Ilmu sendiri memiliki kesempurnaan, di samping ia menjadi tanda kesempurnaan manusia dan hewan. Kesempurnaan manusia dan hewan karena ilmu bertingkat-tingkat sesuai dengan tingkatan ilmu yang dikuasainya. Manusia yang pintar lebih baik daripada manusia yang bodoh atau kurang pintar. Kuda yang lincah lebih baik daripada kuda yang bodoh. Murid yang pandai akan menganggap gurunyalah yang lebih utama daripada dirinya karena ilmu gurunya yang lebih banyak. Bahkan, hewan pun bisa merasakan keutamaan ilmu. Buktinya jika melihat manusia, apalagi orang alim, hewan menaruh hormat dan takut karena mengerti bahwa manusia adalah makhluk yang cerdik-pandai. Kenyataan itu semakin memperjelas perbedaan derajat manusia dengan hewan.
Dengan demikian, keutamaan murid dan guru diukur dengan ilmu, bukan yang lain. Ilmu adalah keutamaan. Ia menjadi unsur terpenting dalam memperoleh keutamaan. Maka, mempelajari ilmu hakikatnya mencari keutamaan, mengajarkannya adalah menyebarkan keutamaan, dan semuanya menjadi proses meraih keutamaan. Ilmulah yang dapat menjelaskan tujuan hidup, baik yang bersifat keduniaan atau keakhiratan, berdimensi agama atau dunia. Keduanya bisa dipahami dan disatukan dengan ilmu. Norma agama tidak mungkin ada tanpa norma dunia. Adanya aturan agama karena adanya kehidupan dunia, yang kemudian dunia diatur dengan agama. Dunia adalah ladang akhirat, tempat menanam tanaman akhirat, yang buahnya dipanen ketika hidup di akhirat. Dengan demikian, dunia bukanlah tujuan hidup atau tempat tinggal abadi. Ia sekedar media penghubung yang menghubungkan manusia dengan Allah, kehidupan dunia dengan kehidupan akhirat. Tentu pemahaman ini hanya untuk orang yang meyakininya.

Persoalan dunia tidak bisa diatasi dengan baik kecuali dengan kerja yang disiplin, penguasaan ilmu sesuai dengan bidang yang sedang ditangani dan terus-menerus mengembangkan profesinya, atau dengan kata lain, mengelola dunia secara profesionalisme.

1 komentar:

  1. Mantap.. orang yang berilmu akan diangkat derajatnya.. semoga ilmu yang kita miliki bisa bermanfaat

    BalasHapus