sapa dan salam

Assalamuallaikum, Selamat bergabung di Xpassion.:D

info terupdate

Hi Xpassioners, selamat berkarya di BUKU ke 2 Xpassion, kumpulkan tulisanmu segera, rebranding your self and improve your skill
  • -Lutfi Zein-.
  • Find Your Passion
  • Now
  • No Delay,No Excuse,No But.
  • Reading Books Makes you Better.

Jumat, 13 September 2013

Kisah Dalam Sebuah Bus

Penulis: Inu Basidjanardana

Dari banyak perjalanan, sebagian besar diantaranya adalah himpitan yang membuat kita, kalau mau jujur, seharusnya merasa beruntung. Banyak melihat kenyataan yang seringkali tidak sesuai dengan harapan. Banyak mendengar kedengkian yang melemparkan kita pada kesunyian berfikir. Merasakan bahwa dunia ini sebenarnya diciptakan untuk segala sesuatu yang ada didalamnya, untuk bersama hidup dalam sekilas cerita di rentang waktu kehidupan.
Ada seorang ibu, bersama entah suami atau lelaki hidung belang, menggendong seorang balita di sebuah angkutan yang kutumpangi. Mereka mengamen dengan suara parau, diselingi erangan anaknya yang meminta perhatian. Kulihat sebagian besar dari kami, penumpang bus itu, tidak ingin terlalu jauh larut dalam pemandangan yang menyedihkan itu. Ada sebuah perasaan haru, tapi lebih banyak kesal. Mengapa Tuhan menampakkan segalanya dengan begitu apa adanya. Menunjukkan pada kita semua bahwa “inilah sebagian cerita dalam dunia yang kau tinggali”.
Seorang lelaki berikutnya naik ke dalam bus yang sama. Juga menyanyikan sebuah tembang dengan teknik vokal yang lebih menyerupai sebuah raungan. Lamat-lamat, indah pula pesan dalam tembangnya. Kesan menyentuh hati. Kuperhatikan lima jari di tangan kanannya hilang. Ada sedikit daging tersisa menyerupai jempol, yang sesungguhnya tidak lagi dapat disebut sebagai jari. Disitu ia menempelkan pick gitar nya, dengan lem atau entah alat perekat apa. . Apa kiranya kisah yang membawanya sampai pada bus ini?Tatapannya kosong, memandang keluar jendela di sepanjang jalur tol yang lebih mulus nasibnya.
Di sebuah persimpangan, dua anak perempuan ikut serta dalam perjalanan bus ini. Yang lebih besar menggendong ukulele, yang satu lagi membawa rangkaian tutup botol dalam sebuah kayu kecil yang dijadikannya alat musik. Mereka bernyanyi tanpa peduli situasi. Suaranya fals. Seharusnya sekarang mereka belajar atau mengerjakan tugas sekolahnya. Tapi kini mereka meramaikan bus kami dengan hiburan alakadarnya. Semua tahu ini hanyalah sebagian kecil dari banyak potret sama seperti mereka di puluhan kota besar lain di negeri ini.
Kalau setiap harinya kita duduk diruangan ber AC, bersenda gurau dengan teman dan rekan kerja. Makan sepiring nasi lengkap dengan lauk pauk sesuai keinginan. Belajar tinggi dan membaca segala teori yang menganalisis tentang kondisi sosial masyarakat. Punya waktu untuk bercumbu dan menghayalkan cita-cita romantis bersama pasangan. Kini apa sesungguhnya makna dari segala pelajaran di bangku kehidupan ini?
Adakah sebuah kepastian dalam hidup? Menjadi manusia pun tidak selamanya mudah.Banyak hal yang memaksa kita untuk terus merasa bahwa kita hanyalah seonggok daging berlapis kulit.Mendambakan hidup selalu menjadi lebih baik dan lebih baik, tetapi terus tergerus oleh keterbatasan yang teramat nyata.Akhirnya …jikapun ada kepastian itu, tentulah melulu sebuah bentuk ketidakpuasan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar